Jumat, 07 September 2012

Jendral Sudirman

Jendral Sudirman adalah salah satu Prajurit dan Pahlawan besar yang pernah dimiliki Indonesia. Meskipun Jendral Sudirman hanyalah berasal dari keturunan orang biasa dari masyarakat desa, namun,beliau menjadi salah satu orang yang sangat – sangat berjasa untuk perjuangan negeri tercinta Indonesia. Satu – satunya orang yang sukar untuk dicari bandingannya hingga kini. Disegani kawan dan lawan, ditakuti musuh – musuhnya.

Jendral Sudirman adalah seorang tentara yang meniti karier sejak dari prajurit biasa hingga menjadi Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia. Berkat sepak terjang Jendral Sudirman yang memimpin dan mengomando perlawanan terhadap tentara Belanda yang menyerang dan merobohkan Republik Indonesia yang terkenal dengan agresi militer I dan II.

Setelah penyerahan kedaulatan dan Republik Indonesia Serikat ( RIS ) berdiri, beliau diangkat menjadi Letnan Jendral dan setelah meninggal dunia ia diangkat menjadi Jendral sebagai penghormatan Negara terhadap perjuangan dan jasa – jasanya.

Sudirman adalah anak desa Bedaskarangjati Purbalingga, anak dari asisten Wedana pensiunan Rembang yang termasuk Kabupaten Purbalingga. Terlahir pada tahun 1912, mula – mula beliau dimasukkan ke sekolah renda. Setelah tamat, beliau melanjutkan pendidikan di Mulo Wiwirotomo, Cilacap.

Watak dan pribadinya tidak banyak menarik perhatian, baik dari kawan – kawan siswa maupun orang lain. Sifatnya yang pendiam, tidak banyak membawanya ke dalam pergaulan. Ditambah lagi berbadan kurus, kulit hitam sawo matang hingga beliau tidak begitu menarik. Selepas tamat dari sekolah Mulo beliau melanjutkan di sekolah guru Muhammadiyah. Jiwa Islam yang kuat mendorong beliau masuk ke Muhammadiyah, dari situlah Sudirman mulai berkecimpung di tengah masyarakat. Beliau mulai terkenal sebagai seorang yang tenang, rendah hati dan pandai membawa diri dalam pergaulan.

Sewaktu diangkat menjadi guru di sekolah Muhammadiyah, beliau sangat disegani dan dicintai oleh seluruh murid – muridnya dan seluruh masyarakat Cilacap. Dari sinilah mulai tampak benih – benih kebesaran jiwa, kekerasan hatinya dalam memperjuangkan cita – cita Islam, agama yang dianut beliau.

Pada tahun 1944 Sudirman mulai masuk tentara PETA. Beliau menjabat sebagai Daidanco di Kroya. Setelah mendapat pangkat itu beliau ingin mewujudkan cita – citanya yaitu kemerdekaan tanah air Indonesia, dan akhirnya mau tak mau beliau harus berjuang melawan penjajah dengan mengangkat senjata. Untuk mewujudkan cita – citanya, Sudirman mulai mendidik para pemuda dengan memasukkan semangat cinta tanah air. Beliau ingin membentuk satu tentara rakyat yang revolusioner untuk kemuliaan tanah tumpah darah tercinta.

Gerak – gerik Sudirman rupanya tercium oleh Jepang, untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan beliau dipindahkan ke Bogor. Pada waktu penyerahan Jepang kepada Sekutu, Sudirman ditangkap oleh kompeni. Tak lama, beliau dibebaskan karena kekalahan Jepang dari Sekutu. Selepas dari tahanan Sudirman pulang ke Banyumas. Kemudian beliau mengumpulkan anak buahnya yang tergabung di PETA dan disiapkan untuk perang kemerdekaan.

Sebagaimana diketahui, revolusi Indonesia meletus. Disana – sini terjadi pertempuran maha dashyat, merebut kekuasaan dari Jepang. Seluruh Indonesia bergolak. Sudirman tampil ke muka dengan jiwa yang besar. Di Kroya, Sudirman dengan bala tentaranya mengepung tentara Jepang yang bersenjata lengkap, hingga tentara Jepang menyerah. Setelah peristiwa itu nama Sudirman berkibar, rakyat banyak yang mengikuti perjuangannya. Semua senjata hasil rampasan dipergunakan untuk mempersenjatai tentaranya.

Setelah sukses di Kroya, Sudirman melanjutkan aksi ke Purwokerto. Terjadilah pertempuran sengit, tapi beliau tetap menang dan Jepang menyerah. Semua senjata Jepang dirampas untuk memperkuat tentaranya.

Ketika pertempuran Semarang meletus, Sudirman mengatur barisan di daerah Kedu. Beliau bertambah kuat dan hatinya semakin mantap untuk berjuang melawan penjajah. Ketika tentara Inggris menyerbu dari Semarang ke Ambarawa, Sudirman menghadapi tentara gabungan itu dengan gagah berani. Terjadilah pertempuran dashyat, dan akhirnya untuk kesekian kalinya Sudirman memenangkan pertempuran, dan musuh dapat diusir kembali ke Semarang.

Sejak saat itu nama Sudirman sangat terkenal. Karena kemenangan yang berturut – turut, dan kegemilanganya mempertahankan Ambarawa dari serbuan tentara Sekutu, tidaklah berlebihan jika Presiden Soekarno mengangkatnya menjadi Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia.

Pengangkatan Sudirman menjadi Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia bukan disebabkan pada pendidikan yang ditempuhnya di Akademi Militer. Tetapi semata – mata berdasarkan kecakapan dan keberanian beliau yang sangat – sangat luar biasa.

Meski berbadan kurus, perawakan lemah, tapi semangat dan jiwa beliau jauh lebih besar dari tampang beliau. Tubuh Sudirman melebihi tentara yang dilatih di Akademi Militer dimanapun juga.

Setelah sekian lama berperang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, akhirnya pada tanggal 29 Januari 1950 pukul 06.30, Jendral Sudirman meninggal dunia dengan penuh ketenangan dalam usia 38 tahun di Magelang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda sangat bermanfaat untuk blog kami dan juga pengunjung blog ini

RECENT COMMENTS